KETEGANGAN antara Amerika Serikat dan Iran kembali membara setelah kedua belah pihak saling meluncurkan serangan udara. Presiden AS, Donald Trump, menyatakan dengan tegas negaranya akan memberikan balasan yang jauh lebih sengit kepada Iran.
“Kami memukul mereka dengan keras kemarin dan kami akan memukul mereka dengan keras lagi hari ini,” ujar Trump kepada wartawan di Oval Office.
Merespons ancaman tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian melalui platform X menyatakan bahwa negaranya tidak akan mundur. Iran menegaskan “akan berdiri teguh melawan segala tekanan atau ancaman”.
Tak lama setelah itu, Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa pasukan militer AS telah mulai meluncurkan serangan terhadap beberapa target di Iran. Melalui akun X, Centcom menyatakan bahwa langkah ini diambil “sebagai tanggapan atas agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut”.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, juga memperkuat pernyataan tersebut dengan mengonfirmasi bahwa bom-bom akan “jatuh di fasilitas-fasilitas penting di Iran”.
“Presiden Trump mengatakan kita akan memukul Iran dengan keras dan kita akan melakukannya,” tegas Hegseth.
Saling Balas Serangan Militer
Konflik terbaru ini dipicu oleh jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS yang sedang berpatroli di Selat Hormuz. Trump menyebut helikopter tersebut jatuh akibat hantaman pesawat nirawak (drone) Iran yang terbang sangat rendah. Meskipun kedua kru berhasil selamat, insiden ini memicu respons militer dari Washington.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah meluncurkan serangan ke 21 target di pangkalan militer AS yang berada di Bahrain dan Yordania. Namun, pihak AS melaporkan hampir semua rudal dan drone Iran berhasil dicegat tanpa adanya korban jiwa.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqai, justru menuduh AS telah merusak proses diplomasi yang sedang berjalan.
“Merusak proses diplomatik ini melalui pesan-pesan kontradiktif yang dikirimkannya, perubahan posisi dan tuntutan yang berulang-ulang, dan yang terburuk dari semuanya, melalui pelanggaran gencatan senjata yang berulang kali,” tutur Baqai.
Blokade Laut dan Isu Nuklir
Selain serangan udara, militer AS juga dilaporkan telah menembak sebuah kapal tanker minyak di Teluk Oman karena dianggap melanggar blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah pemblokiran ini merupakan buntut dari penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz oleh Iran.
Di tengah memanasnya situasi militer, Trump kembali mendesak Iran untuk segera menandatangani kesepakatan damai. Ia menegaskan bahwa draf perjanjian yang ditawarkan saat ini sama sekali tidak memberikan kelonggaran bagi Iran untuk mengembangkan senjata pemusnah massal.
Perjanjian tersebut “tidak memberi mereka hak untuk memiliki senjata nuklir, bahkan sepenuhnya melarang mereka untuk memiliki senjata nuklir,” pungkas Trump. (BBC/Z-2)