IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah dalam melaksanakan skrining hepatitis melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Meski demikian, IDAI memberikan catatan kritis agar deteksi dini tersebut tidak berhenti pada tahap diagnosis semata, melainkan harus diikuti dengan penanganan medis yang jelas dan berkelanjutan.
Ketua Umum PP IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menegaskan bahwa efektivitas skrining sangat bergantung pada sistem tindak lanjut (follow-up). Tanpa pengobatan dan pemantauan pasien yang terukur, manfaat dari deteksi dini akan berkurang secara signifikan.
“Skrining itu bagus, tapi harus ada follow-up-nya. Jangan sampai hanya jadi gimik. Begitu ditemukan anak yang positif, tindak lanjutnya harus jelas,” ujar Piprim dalam kegiatan puncak HUT ke-72 IDAI di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, dikutip Selasa (16/6).
Target Skrining Nasional
Program CKG merupakan inisiatif Kementerian Kesehatan untuk mempercepat deteksi berbagai penyakit, khususnya gangguan hati akibat hepatitis B dan C. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk menjangkau masyarakat luas guna memenuhi standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
| Parameter Program | Target / Detail |
|---|---|
| Target Peserta 2025 | 70 Juta Orang |
| Target Peserta 2026 | 136 Juta Orang |
| Fokus Penyakit | Hepatitis B, Hepatitis C, dan Gangguan Hati |
| Tujuan Utama | Deteksi Dini & Memenuhi Target WHO |
Pencegahan Melalui Imunisasi
Selain menyoroti aspek skrining, Piprim mengingatkan bahwa benteng pertahanan utama terhadap hepatitis adalah pencegahan melalui imunisasi. Ia menjelaskan bahwa Hepatitis A dan B merupakan penyakit yang dapat dicegah sepenuhnya dengan vaksinasi, sehingga cakupan imunisasi nasional harus terus ditingkatkan.
Pemberian vaksin Hepatitis B segera setelah bayi lahir menjadi krusial. Langkah ini dianggap sebagai investasi kesehatan jangka panjang untuk mencegah infeksi kronis yang berisiko menimbulkan komplikasi serius saat anak beranjak dewasa.
“Sangat penting memberikan vaksin Hepatitis B segera setelah anak lahir untuk mencegah masalah kesehatan saat dia dewasa nanti,” tambahnya.
IDAI menyatakan kesiapannya untuk bersinergi dengan pemerintah dalam mengawal pelaksanaan program ini, mulai dari proses skrining hingga pendampingan medis bagi anak-anak yang terdiagnosis, guna menekan beban penyakit hepatitis di Indonesia secara menyeluruh. (Ant/Z-1)