INDUSTRI musik global secara resmi mengambil langkah preventif guna menjaga orisinalitas karya di tengah masifnya gempuran teknologi digital. Sejumlah organisasi besar industri musik dunia meluncurkan sistem pelabelan khusus untuk mengidentifikasi konten lagu yang diproduksi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif.
Inisiatif ini diinisiasi secara kolektif oleh Federasi Internasional Industri Fonografi (IFPI) bersama Asosiasi Industri Rekaman Amerika (RIAA). Langkah progresif ini juga mendapat dukungan penuh dari institusi bergengsi lainnya, termasuk penyelenggara Grammys dan serikat pekerja seni SAG-AFTRA.
“Para penikmat musik berhak mengetahui secara transparan sejauh mana pemanfaatan AI generatif dalam sebuah karya rekaman. Implementasi label ini akan menjadi instrumen navigasi yang mudah dipahami publik sekaligus menjaga ekosistem industri tetap sehat,” tegas jajaran eksekutif IFPI dan RIAA dalam pernyataan bersama di New York, Jumat (10/7) waktu setempat.
Sistem klasifikasi ini membagi regulasi pelabelan ke dalam dua kategori utama demi memudahkan kurasi di berbagai platform pemutar musik digital.
Klasifikasi ‘AI-Generated’ dan ‘AI-Assisted’
Kategori pertama adalah label “AI-Generated” (Dihasilkan oleh AI). Label ini disematkan pada materi lagu yang secara esensial memercayakan seluruh atau mayoritas elemen kreatifnya pada algoritma komputer. Cakupannya meliputi komposisi yang lahir murni dari instruksi teks (prompt), termasuk penggunaan vokal utama tiruan (AI-voice) serta aransemen instrumen kunci yang digerakkan oleh kecerdasan buatan.
Kategori kedua bertajuk “AI-Assisted” (Dibantu oleh AI). Klasifikasi ini diperuntukkan bagi karya musik yang secara substansial tetap diproduksi oleh manusia serta mengekspresikan orisinalitas kreativitas musisi, namun memanfaatkan sentuhan teknologi AI untuk menyempurnakan beberapa elemen ekspresif minor. Pada kategori ini, syarat mutlaknya ialah vokal utama dan instrumen primer wajib dimainkan langsung oleh manusia.
Langkah ini dirilis sebagai respons atas membanjirnya konten AI di platform streaming. Berdasarkan data internal platform Deezer, hampir separuh dari total unggahan lagu baru di sistem mereka kini terindikasi menggunakan AI. Fenomena serupa terjadi di Apple Music, di mana lebih dari sepertiga materi baru yang masuk ke database mereka diketahui murni hasil fabrikasi kecerdasan buatan.
Melalui standardisasi label sukarela ini, pelaku industri berharap dapat menyeimbangkan laju inovasi teknologi tanpa harus mendegradasi nilai hak cipta, proteksi identitas, serta esensi kreativitas kemanusiaan para musisi dunia.
(AFP/P-4)